2 JUL 2026

Menanam Benih Berkelanjutan: Guru Adalah Kunci Utama Ekosistem STEAM

Diterbitkan: Kamis, 2 Jul 2026 | 14:56 WIB | 7 View

Esensi sejati dari implementasi STEAM terletak pada kedalaman paradigma guru yang mengajar. Guru yang berkelanjutan (sustainable educator) melihat STEAM sebagai lensa terintegrasi yang menyatukan potongan-potongan ilmu.

Untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana sampah di sekolah dapat bermanfaat?” atau “Bagaimana mengantarkan bantuan di daerah bencana yang minim fasilitas?”, narasumber Jatnika Hermawan, Ph.D seorang pakar Pendidikan hadir untuk menjadi agen keberlanjutan.

STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) adalah ekosistem berpikir. Penerapan berbasis masalah di kehidupan nyata kemudian penyelesaiannya adalah dengan penerapan STEAM yang relevan.

Pada BIMTEK ini, para guru diajak memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar. Salah satunya adalah aplikasi phet Colorado. Aplikasi yang akrab bagi guru IPA ini ternyata bisa digunakan oleh semua guru untuk materi yang sesuai. Setelah membuat akun, guru diminta untuk mencari materi yang akan dikaitkan dengan STEM. Pada mata pelajaran PJOK materi bola basket. Aplikasi phet colorado (S: observasi, eksperimen; T: computer; A: posisi melempar; M: jarak untuk melempar) memberikan alternatif bagi guru ketika lapangan basket tidak siap. Dengan laboratorium virtual, guru tetap dapat memberikan materi kepada murid dengan simulasi yang dapat mereka coba secara langsung.

Menjadi pendidik STEAM yang berkelanjutan membutuhkan kemauan untuk beradaptasi dan belajar sepanjang hayat. Kita memosisikan diri sebagai kompas perjalanan. Melalui ruang kelas yang inklusif dan kolaboratif inilah, kita tidak sekadar mengejar ketuntasan nilai kognitif, melainkan sedang merawat masa depan profesi kita sendiri – menjadi guru yang selalu relevan bagi generasi yang terus berubah.